Dataran tinggi Dieng terletak di Kaki gunung Prau yang menurut wilayah administrative berada pada empat karisidenan (Pekalongan ,Banyumas, Kedu, dan Semarang) Meliputi Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Batang, Pekalongan, Temanggung dan Kab. Kendal. Dieng berada pada ketinggian 2100 s/d 2300 Mdpl. Masa kejayaan Dieng dikenal sejak dinasti Sanjaya sampai Dinasti Syailendra. Yaitu pada masa Pemerintahan Rake Warak Diyah Manara Raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 803 s/d 827 M. Pada masa kejayaan dinasti sanjaya dan syailendra kekuasaanya meliputi dari Karesidenan Pekalongan, Karesidenan Kedu, Karesidenan Banyumas dan Karesidenan Banyumas.
Dalam era memasuki globalisasi ini dunia pariwisata juga dituntut untuk bisa mengembangkan diri dan bisa bersaing dengan Wisata lainya serta mampu mengantisipasi berbagai permasalahan-permasalahan yang akan timbul. Permasalahan-permasalahan ini akan timbul ketika pembangunan sektor pariwisata mengancam eksistensi dan kelestarian kesenian tradisional serta Budaya Lokal. Dimana ekpresi budaya local seperti kesenian tradisional, budaya lisan seperti mitos, legenda, cerita rakyat serta budaya lainnya yang telah menjadi kebutuhan integrative masyarakat lambat laun akan terabaikan padahal eksistensi budaya local merupakan aset wisata yang tak ternilai harganya. Hal ini perlu suatu model pengembangan pariwisata yang berorientasi pada kelestarian budaya yang berbasis kearifan lokal, perlu upaya dan aksi demi kelestarian budaya local dengan mensinergikan antara obyek wisata dengan kesenian tradisional dan budaya local.
Geliat dan semangat yang ada dimasyarakat ditampung aspirasi dan idenya, dalam rangka menunjang kepariwisataan perlu dukungan oleh semua pemangku berkepentingan, Sehingga tujuan pariwisata yang berorientasi pada kelestarian kesenian tradisional dan budaya Lokal dapat terwujud. Media melestarikan lewat kegiatan parade kesenian tradisional,sendratari babad Dieng serta sarasehan seni dan Budaya. Sehingga kebudayaan local menjadi bagian dari kebudayaan Nasional.
Kalau Kita Menyusuri beberapa Peradapan yang ada di Dieng. Bahwa sebelum adab ke 6 Dieng dikenal dengan peradapan Agama Kapitayan atau Agama Nusantara ini merupakan Peradaban di mana sebelum Agama Hindu masuk dan berkembang di Dieng. Memasuki pada abad ke 6 Dieng berperadaban Tirta Gama. Ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti-prasastisejumlah 13 Buah.diantaranya :Prasasti Kapuhunan yang menceritakan tentang tempat tinggal Dewa Syiwa, ini memperkuat bahwa Dieng merupakan sebagai tempat bersemayamnya para Dewa Dewa dan dari prasasti-prasasti yang ada Prasasti yang tertua yang menunjukan tahun saka 731 C /809M. dan yang prasasti yang termuda tahun 1132 saka / 1210 M.
Begitu Lengkapnya kekayaan yang dimiliki kawasan dataran tinggi Dieng sehingga akan sangat menarik apabila dikembangkan lagi terutama dukungan masyarakat lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Obyek wisata tersebut. Bagaimana mensinergikan antara Obyek wisata dengan Budaya Lokal diantaranya adalah dengan sarasehan budaya, aktrasi kesenian tradisional dan budaya tradisi ruwat rambut gembel, Sendratari Mahabarata versi Dieng dan Babad Dieng yang merupakan bagian dari kebutuhan integrative masyarakat dataran tinggi Dieng.

1 2