Arca Dewi Dieng

arca dewiArca Dewi yang dalam legenda merupakan jelmaan istri Resi Gautama, hingga sekarang masih berdiri kokoh di tepi telaga Merdada, tepatnya di atas bukit sebelah timur Telaga.

Arca Dewi

Arca batu tersebut seakan melambangkan seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya. Bila kita ingin menyaksikan bagaimana rupa sang Ratu, kita harus menaiki bukit dengan lintasan yang cukup sulit. Namun, kesulitan tersebut akan terbayarkan ketika kita sampai di atas. Dari sisi tenggara Arca, kita dapat menyaksikan batu berbentuk kepala dengan mahkotanya. Benar-benar terlihat sebagai jelmaan seorang Ratu. Tak hanya itu, dari puncak bukit kita dapat menyaksikan pesona Telaga Merdada yang berbentuk cekungan dengan bukit hijau di sekitarnya. Panorama yang sangat indah dengan terpaan angin sejuk yang menentramkan. Bila kita haus atau merasa lelah, kita dapat memetik carica langsung dari ladang di sisi bawah Arca Dewi. Kesegaran rasa asam carica dapat menghilangkan haus sekaligus menjadi suplai energy untuk dapat menikmati berbagai keindahan di setiap sudut telaga Merdada.

Batu Tumpeng

Tidak jauh dari Arca Dewi, batu tumpeng terletak di atas bukit sisi timur Telaga Merdada. Batu ini merupakan pemisah antara Telaga Merdada dan bukit Sitalang. Disebut batu tumpeng karena bentuk batu ini menyerupai nasi tumpeng yang biasa disajikan dalam berbagai perayaan.

Gua Mushola

Sebagai sebuah fenomena bentukan alam, gua ini memiliki ketinggian 500m dari bibir Telaga Merdada. Dinamai gua Mushola karena gua ini sering menjadi tempat para wisatawan menunaikan ibadah salat ketika mereka mendaki puncak Arca Dewi. Gua Mushola termasuk dalam jajaran gua tertinggi di Dieng dengan mulut gua menghadap langsung ke Telaga Merdada. Sisi muka gua yang berbentuk lapang dengan naungan pohon hijau membuat tempat ini layak sebagai tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke pucak Arca Dewi.

Pesanggrahan

Pesanggrahan atau yang sekarang lebih terlihat sebagai gardu pandang, terletak di sebelah utara lapangan parkir. Sebelum disulap menjadi gardu pandang, tempat ini pernah disinggahi Raden Suwiryo (Adipati Kolopaking) yang merupakan Adipati Banjarnegara untuk mencoba kesaktiannya (nguji kanuragan). Pada saat itu beliau menjajal kesaktiannya dengan mengambil air dari Telaga Merdada menggunakan keranjang tanpa ada setetes air yang tumpah. Sejak saat itu, tempat ini disebut sebagai pesanggrahan yang artinya “disinggahi”. Dan hingga saat ini pula, tempat ini sering digunakan sebagai tempat para petinggi atau pemimpin daerah untuk singgah dan beristirahat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *